Batam Tidak Memiliki Sumber Air Baku

Artikel ini diambil dari www.atbbatam.com
Dipublikasikan Pada : 09-NOV-2017 15:03:47,   Dibaca : 107 kali
Sebagai bentuk bagian edukasi ke masyarakat, PT Adhya Tirta Batam (ATB) secara rutin memberikan layanan edukasi. Pelanggan ataupun mahasiswa dan siswa sekolah bisa berkunjung atau visit ke bagian produksi ATB secara langsung.

Seperti kunjungan sejumlah mahasiswa Universitas Universal Batam yang datang ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mukakuning, kunjungan disambut langsung oleh Manager Produksi ATB Estiyudo Listyadi yang memberikan edukasi seputar ATB dan proses air bersih di Batam. Secara umum Estiyudo menjelaskan seputar sumber air baku yang ada di Batam yang hanya mengandalkan air hujan.

"Batam sangat unik dari daerah lain disini tidak memiliki sumber mata air atau air baku, hanya mengandalkan curah hujan yang ditampung dalam dam atau embung," ucap Estiyudo dihadapan rombongan mahasiswa Rabu (8/11)  

Keingintahuan sejumlah mahasiswa yang terdiri dari berbagai jurusan tersebut nampak antusias. Mereka penasaran dengan proses produksi air yang dilakukan ATB. Secara umum Estiyudo menyampaikan proses demi proses ATB memproduksi air bersih.     

"Komitment kami tentunya menyiapkan pelayanan suplai air harus diatas kebutuhan masyarakat," jelas Estiyudo.

Seiring dengan kinerja ATB menyediakan air bersih bagi warga Batam. ATB juga memiliki tantangan dalam menyiapkan air bersih. Tingginya pertumbuhan penduduk di Batam antara 7-10 persen per tahun beberapa tahun terakhir jadi sebuah persoalan dengan ketersediaan air baku.

Tidak hanya itu, Batam juga pernah mengalami kondisi sulit dengan datangnya musim kekeringan pada 2015, atau dikenal dengan elnino atau kekeringan. Dengan kondisi tersebut dari lima dam yang dikelola ATB satu dam yakni dam Harapan berproduksi secara bergiliran.

"Saat elnino 2015 melanda meski tidak populer kami melakukan rationing atau penggiliran air, namun harus dilakukan karena untuk memperpanjang umur Instalasi Pengolah Air (IPA). Distribusi kita lakukan penggiliran ke pelanggan dengan pola 2131 dua hari suplai tidak mengalir, sehari mengalir tiga hari tidak mengalir dan sehari mengalir," jelas Estiyudo.

Kesempatan ini juga diisi dengan diskusi seputar kualitas air yang di produksi ATB yang sampai ke pelanggan. Air bersih yang dialirkan ke pelanggan yang masih terdapat sisa klorin masih jadi tanda tanya di masyarakat.

"Air yang sampai ke pelanggan masih terdapat klorin, justru menandakan air tersebut masih terbebas dari bakteri, dan masih aman untuk dikonsumsi," ujar Estiyudo.
 
Rombongan mahasiswa juga di perkenalkan dengan aplikasi SCADA yang dibangun oleh Tim ATB. Melalui Scada terintegrasi dengan GIS dan AIRS lebih mudah mengontrol area produksi, distribusi dan kebocoran hanya dalam satu ruangan.

"Dengan SCADA dapat memudahkan pejabat terkait untuk mengontrol dan memonitor disetiap area operasional, sehingga dapat meminimalisir dampak yang terjadi," lanjutnya    
        
Ahmad Fitriansyah perwakilan tenaga pengajar Universitas Universal mengatakan, pihaknya cukup senang bisa dapat berkunjung ke ATB. Dengan kunjungan ini setidaknya mahasiswa bisa mendapat wawasan dan informasi baru seputar pengolahan air bersih yang di lakukan ATB   

"Teman-teman mahasiswa tadi mendapat banyak informasi khususnya proses pengolahan air. ATB sebagai perusahaan besar sudah cukup profesional mengelola perusahan, bahkan saat memasuki area Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mukakuning ada standar operaasional ATB yang harus dijalankan, ini jadi pelajaran baik bagi kami," jelas Ahmad.

Diakhir kunjungan, rombongan mendapat kesempatan meninjau ke lapangan melihat ke beberapa proses pengolahan air di IPA Mukakuning. Dipandu oleh tim produksi ATB, sejumlah mahasiswa mendapat gambaran proses pengolahan air yang dilakukan ATB. (Corporate Communication ATB/ Yusuf Riadi)