Air Baku Terbatas, ATB Kelola Air Bersih di Batam dengan Efisien

Artikel ini diambil dari www.atbbatam.com
Dipublikasikan Pada : 13-NOV-2018 17:55:56,   Dibaca : 399 kali
Keberadaan air bersih saat ini dan masa mendatang jadi komoditi yang mulai langka. Layaknya minyak dan energi mineral, kebutuhan pokok ini bakal jadi rebutan umat manusia.

Tidak hanya di Batam dan Indonesia, kota-kota besar di Dunia seperti Beijing, Sao Paulo, Mexico, Turki hingga Pakistan beberapa tahun mendatang diprediksi mulai kesulitan mendapatkan air bersih.

Prediksi tersebut mengingat makin minimnya cadangan pesediaan air, utamanya air tanah. Pembangunan yang tidak terkendali tanpa memikirkan lingkungan serta penggunaan yang tidak terbatas menjadi penyebabnya.

Di Batam kita patut berbangga dengan keberadaan ATB yang dipercaya mengelola air bersih. Keterbatasan sumber air baku dan hanya bergantung pada curah hujan yang ditampung di dalam lima waduk.

Melalui kreatifitas dan inovasi teknologi yang diciptakan ATB berupa teknologi SCADA GIS terintegrasi, saat ini ATB dengan cakupan pelayanan 99,5 persen memiliki jumlah pelanggan 260 ribu lebih, mampu efisien mengelola air bersih.

"Defisit ketersediaan air baku menjadi ancaman termasuk di Batam. ATB telah berinovasi mengelola air bersih sebagai Smart Water Company yang menghasilkan efisiensi. Kita beruntung kebocoran air di Batam sudah sangat rendah dari 25 persen menjadi 15 persen," tutur Presiden Direktur ATB Ir Benny Andrianto Antonius MM saat jadi pembicara pada kegiatan Focus Group Discussion di ruang Marketing Centre BP Batam, Senin (12/11).
 
Peraih Top CEO BUMD 2017-2018 ini meyakini Pemprov Kepri dan BP Batam sudah melakukan langkah-langkah atau kajian strategis mendapatkan sumber air baku. Ketersediaan air baku saat ini sekitar 3850 liter per detik, ATB mampu efisien mengelola air bersih saat ini sekitar 3510 liter perdetik.

"Tapi karena kita bisa efisien maka kita mampu menyelamatkan Batam, saat ini kebutuhan air bersih sekitar 3510 liter per detik. Tuhan juga begitu adil meski sumber air yang terbatas, curah hujan di Batam sudah setara dengan kota Bogor dengan curah hujan 2454 mm pertahun," lanjut Benny

Efisiensi yang dilakukan ATB sebagai satu satunya cara untuk bisa bertahan sejak beberapa tahun belakangan tidak ada penambahan sumber air baku yang disediakan pemerintah.

"Diperkirakan 20 tahun kedepan Batam butuh sekitar 4000 liter per detik. Per tahun kita membutuhkan 200-300 liter perdetik, ini jadi perhatian kita bersama saya yakin Pemprov Kepri dan BP Batam sudah melakukan kajian, berapa jumlah penduduk di Batam itulah yang menentukan berapa tingkat kebutuhan air yang disuplai dan bukan unlimited, dengan catatan kebocoran harus dibawah 20 persen," harap Benny Andrianto.

Sementara, Deputi IV BP Batam, Eko Budi Soepriyanto menjelaskan, BP Batam bersama Pemerintah Provinsi Kepri dengan dukungan Kementerian PUPR, Kemenkeu, Bapenas fokus mencari sumber air baku untuk kebutuhan Batam dimasa mendatang. Air terjun Busung dan air terjun Jelutung di Kab Lingga jadi pilihan disamping memaksimalkan waduk-waduk di Batam Rempang dan Galang 

Ia berharap kerjasama tersebut bisa segera terealisasi, direncakan suplai air dari Kab Lingga dialirkan ke Batam melalui pipa bawah laut dengan perkiraan pipa sepanjang 120 km.

"Nantinya BP Batam hanya menerima hasil, pembangunan tetap dilakukan pemerintah. Setelah selesai baru pengelolaannya diberikan ke BP Batam untuk dikerjasamakan dengan ATB," ujarnya.

Bupati Lingga, Alias Wello mengatakan, potensi pemanfaatan air di Lingga terbilang besar, dan ini juga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan terhadap air di daerah lainnya di Kepri.

"Potensi air baku di lingga sangat memungkinkan untuk kebutuhan air di Batam termasuk pulau-pulau di Kepri," ujar Alias

Sumber air terjun Jelutung di Pulau Lingga, berkapasistas 4.000 liter per detik saat musim kemarau, sebesar 6.000 liter per detik saat terjadi musim hujan.  (Corporate Secretary)