Adhya Tirta Batam Official Website
 
Sun, 08 Dec 2019
Selamat Datang di Website PT. Adhya Tirta Batam (ATB)
Selalu Siapkan Tampungan Air, Antisipasi Terjadi Gangguan Suplai
Sumber Air Baku di Batam Terbatas, Gunakan Air Seperlunya Bukan Secukupnya.
Layanan ATB Mobile hadir di Pasar Botania 2, pasar Sei Harapan, Pasar BBC Dapur 12, pasar Fanindo Tanjung Uncang.
Pembayaran tagihan air ATB bisa dilakukan di Alfamart, Indomaret serta Bank Bukopin
Bayarlah tagihan anda sebelum tanggal 20 setiap bulannya agar terhindar dari denda keterlambatan dan penghentian aliran air bersih.

Info Grafis

Semua Boleh Berubah, tapi Air Tetap Tak Terganti

Dipublikasikan Pada : 01-DEC-2019 21:55:05,   Dibaca : 166 kali

Oleh: Ir. Benny Andrianto, M.M. (Presiden Direktur ATB)

"Satu-satunya yang konstan dalam hidup adalah perubahan," Heraclitus

Siapa yang bisa menghindari perubahan? Tidak ada. Semua hal berubah. Apalagi di era seperti sekarang. Dimana dunia sudah masuk dalam revolusi industri 4.0. Perubahan terjadi dengan sangat cepat karena kemajuan teknologi.

Dunia telah berubah. Dari yang dulu sangat terbatas, menjadi sangat tidak terbatas. Dunia sudah ada dalam genggaman tangan Anda. Paradigma manusia berubah. Jadi borderless dan limitless. Menembus ruang dan waktu. Tak ada lagi batasan.

Anda bisa berkomunikasi tatap muka dengan manusia di benua lain. Hanya dengan fasilitas Video Call. Bahkan, sekarang sudah ada teknologi virtual reality yang memungkinkan Anda melihat kondisi riil sebuah tempat nun jauh di belahan bumi yang lain. Bisa tamasya murah di rumah.

Batasan waktupun juga sudah tak ada. Anda bisa melakukan aktifitas tanpa harus dibatasi waktu. Transaksi keuangan bisa dilakukan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Tidak ada yang membatasi. Itulah revolusi industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 juga akan membuat banyak peran manusiadiganti oleh mesin, robot atau alat apapun. Termasuk kecerdasan manusia. Kita telah mengenal istilah Artificial Intelegence sekarang. Kecerdasan buatan.

Beberapa pakar sependapat, bahwa perubahan-perubahan ini akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang sangat progresif. Namun apakah perubahan-perubahan besar ini hanya akan membawa dampak positif?

Ada baiknya kita memperhatikan sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Inggris, Sir Jhon Beddington. Pria yang pernah menjabat sebagai Penasihat Ilmiah Kepala Pemerintah Inggris ini mempublikasikan penelitiannya dengan judul "The Perfect Storm 2030".

Setelah baca judulnya saja, Anda pasti ngeri. Badai yang sempurna? Badai apa yang dimaksud oleh Beddington? Apa ini mengenai badai dahsyat yang disebabkan angin Puting Beliung? Ternyata bukan. Tapi tidak kalah dahsyat, penelitian Beddington meramalkan kondisi buruk yang berpotensi terjadi hanya dalam 10 tahun mendatang.
Apa itu?

The Perfect Storm menjelaskan potensi kesulitan Makanan, Energi, dan Air (Food, Energy and Water) di tahun 2030. Beddington meramalkan terjadinya lonjakan pertumbuhan penduduk sekitar 33 persen hingga 2030 mendatang.

Dari 6 miliar Jiwa, menjadi 8 miliar jiwa. Kondisi ini turut mendorong naiknya pertumbuhan kebutuhan energi, pangan, dan air. Kebutuhan energi dan pangan diprediksi tumbuh 50 persen, sementara kebutuhan air bersih tumbuh 30 persen.

Bahayanya, ketiga komponen ini tidak bisa digantikan oleh hal lain. Walaupun teknologi sudah semakin maju, manusia tetap butuh sumber pangan, energi, dan air bersih. Tidak bisa tidak.

Lebih spesifik lagi, yang paling mengkhawatirkan adalah laju pertumbuhan kebutuhan air bersih yang semakin tinggi. Anda tahu kenapa? Karena air bersih adalah hal yang tak bisa disubtitusi. Sumbernya terbatas, dan semakin kecil.

Anda bisa mengganti nasi dengan jagung. Atau roti dengan kentang. Anda bisa mengganti bahan bakar fosil dengan sejumlah energi terbarukan. Tapi apa Anda bisa mengganti air? Tentu tidak bisa.

Celakanya, dengan tingginya pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi saat ini, banyak lahan turut beralih fungsi. Lahan untuk ketersediaan air bersih semakin terbatas. Di sisi lain kebutuhan semakin meningkat. Itulah yang membuat prediksi adanya bencana 2030 bisa menjadi kenyataan.

Lalu bagaimana dengan Batam?
Mari kita amati lebih teliti. Batam adalah sebuah pulau yang kurang beruntung dalam hal ketersediaan sumber air. Kota ini hanya hidup dari curah hujan yang ditampung di lima dam. Cadangan air bersih di Batam saat ini tinggal 10 persen. Tepatnya, 350 liter perdetik.

Beruntungnya ATB melakukan sistem pengoperasian dengan sangat profesional dengan tingkat efisiensi yang sangat tinggi. Dengan tingkat kebocoran di angka 13 sampai 14 persen, ATB telah memperpanjang usia daya tahan air hingga lebih dari 2 tahun.

Jika tadinya tingkat kebocoran air di Batam berada di angka 20 persen atau lebih ??? seperti daerah lain di Indonesia - bukan tidak mungkin kota ini telah kehabisan air sejak 2 tahun lalu. Batam selamat. Sementara waktu.

Tetapi apakah cara tersebut sudah cukup?
Kali ini kita harus sepakat, jawabannya tidak. Karena kita masih perlu air di masa mendatang. Kita perlu memikirkan, bagaimana Batam bisa bertahan 10 tahun, 20 tahun, bahkan sampai 50 tahun mendatang.

Anda tahu berapa pertumbuhan kebutuhan air bersih tiap tahunnya? Rata-rata 200 liter perdetik. Dengan asumsi tersebut, maka setidak-tidaknya pertumbuhan kebutuhan air bersih di Batam sampai 2030 setidaknya 2 ribu liter perdetik. Itu minimal. Bisa lebih dari itu.

Sementara seperti yang saya ungkap di atas, cadangan air kita hanya 350 liter perdetik. Okelah, ada Dam Tembesi dengan cadangan air 600 liter perdetik. Namun berapa lama cadangan air tersebut bisa bertahan?

Membangun satu sumber cadangan air baku itu butuh waktu lama. Dam Tembesi misalnya. Mulai dibangun 10 tahun lalu, namun belum kunjung beroperasi hingga hari ini. Jadi apakah Anda bisa membayangkan bila Batam baru membangun sumber cadangan air bakunya tahun depan? Bagaimana kita akan mengatasi ancaman the perfect storm 2030?

ATB bisa saja mengolah limbah menjadi air bersih. Atau mengolah air laut menjadi air bersih. Tak jadi soal. Karena teknologi sangat memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Tapi, apakah itu solusi yang tepat?

Perlu saya garis bawahi, mengubah air laut menjadi air yang siap minum bukanlah pilihan yang bijaksana. Karena butuh biaya yang sangat mahal. bisa-bisa nilai jualnya tak akan terjangkau oleh masyarakat.

Kita ambil contoh Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Tahun 2017, PDAM Klungkung mengusulkan dua besaran tarif air yang diolah menggunakan SWRO untuk disetujui Bupati Klungkung. Besarannya adalah Rp 38 ribu  permeter kubik, dan Rp 41 ribu permeter kubik.

Kita bandingkan dengan tarif air bersih kategori rumah tangga di Batam yang hanya Rp2 ribu permeter kubik. Jika Anda biasanya bayar tagihan air Rp 50 ribuan, maka dengan SWRO Anda harus bayar minimal 19 kali lipat, atau sekitar Rp 950 ribu.

Bagaimana menurut Anda? Apakah ini solusi yang harus kita tempuh? Mungkin saja. Tapi itu adalah cara terakhir, setelah tidak ada lagi cara lain yang bisa kita tempuh.

Tapi sekali lagi, merujuk kepada penelitian John Beddington yang berjudul "The Perfect Storm 2030", Batam tidak boleh lengah. Tahun 2030 itu tinggal sebentar lagi. Harus ada langkah antisipatif yang tepat, agar pertumbuhan yang kita rencanakan tidak menjadi bencana di tahun 2030.
Lalu bagaimana caranya?

Ada 4 matriks yang harus diperhatikan dalam merumuskan solusi ketersediaan air bersih di Batam. Saya beri nama Global Water Security. Karena matriks ini sangat berkaitan. Salah satu tidak pada tempat yang benar, maka mata rantai ini akan terputus.

Apa saja itu?

Pertama adalah air sebagai kebutuhan dasar manusia untuk hidup, kedua dampak dari perubahan iklim, ketiga perubahan ekosistem, dan yang keempat adalah pertumbuhan ekonomi. Jika ingin menemukan solusi yang tepat, maka Batam harus mengkaji keempat hal tadi secara holistik. Ini juga berlaku untuk Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi akan sangat dipengaruhi terhadap ketersediaan air. Tanpa ketersediaan air, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan signifikan. Karena industri tidak akan masuk. Industri pasti butuh air sebagai salah satu kebutuhan dasar.

Batam sangat tergantung pada air hujan. Tapi efek pemanasan global telah mengubah pola hujan di Batam. Batam yang dulunya tak pernah kekurangan hujan, sekarang telah mengalami kekurangan hujan.

Intensitas Curah hujan semakin turun setiap tahunnya. Bahkan saat ini kita terancam kekeringan, bahkan ketika curah hujan terus turun beberapa waktu terakhir, kapasitas dam tidak mengalami peningkatan. Ini semua akibat rusaknya daerah tangkapan air di dam tersebut.

Nah, itu beberapa masukan yang bisa saya berikan untuk menjaga ketersediaan air. ATB sudah lebih dulu bergerak. Tentu dengan memperhatikan keempat hal kunci tadi. Tapi ATB saja tidak cukup. Kita semua harus memikirkan ketersediaan air untuk masa depan.

Memiliki cadangan air yang cukup di masa depan menjadi sumber kehidupan yang bekelanjutan, seharusnya menjadi program andalan para calon walikota atau gubernur di pemilihan yang akan datang.

Bagaimana kalau mereka ternyata tidak tahu dan tidak sadar akan hal ini? Mari kita pikirkan.
Salam Kopi Benny (*)




Copyright © 2016 Adhya Tirta Batam. All Rights Reserved. Situs didesain oleh Internal Developer PT. Adhya Tirta Batam