Adhya Tirta Batam Official Website
 
Sat, 22 Feb 2020
Selamat Datang di Website PT. Adhya Tirta Batam (ATB)
Selalu Siapkan Tampungan Air, Antisipasi Terjadi Gangguan Suplai
Sumber Air Baku di Batam Terbatas, Gunakan Air Seperlunya Bukan Secukupnya.
Layanan ATB Mobile hadir di Pasar Botania 2, pasar Sei Harapan, Pasar BBC Dapur 12, pasar Fanindo Tanjung Uncang.
Pembayaran tagihan air ATB bisa dilakukan di Alfamart, Indomaret serta Bank Bukopin
Bayarlah tagihan anda sebelum tanggal 20 setiap bulannya agar terhindar dari denda keterlambatan dan penghentian aliran air bersih.

Info Grafis

Terlena Kenyamanan Membuat Tak Waspada

Dipublikasikan Pada : 10-FEB-2020 21:42:49,   Dibaca : 242 kali

Oleh: Ir. Benny Andrianto, M.M. (Presiden Direktur ATB)

"Anak menjerit-jerit, asap panas membakar. Lahar dan badai menyapu bersih. Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat. Bahwa kita mesti banyak berbenah" (Untuk Kita Renungkan - Ebiet G.Ade)

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tengah melanda raksasa-raksasa dunia beberapa tahun belakangan ini. Tahun lalu, sebuah Bank kelas dunia, Deutsche Bank mengumumkan PHK terhadap 18 ribu karyawannya.

Deutsche Bank hanya satu dari daftar panjang perusahaan yang telah melakukan PHK. Ada nama-nama besar lain yang sudah lebih dulu mengambil langkah ini. Sebut saja HSBC, yang mengumumkan PHK terhadap 10 ribu karyawan sebulan sebelum Deutsche Bank.

HP juga melakukan hal yang sama dengan mem-PHK 9 ribu karyawan. Nissan memutus hubungan dengan 12.500 pekerja. IKEA dengan 7.500 karyawannya.

Apa yang sedang terjadi? Mengapa para raksasa ini mengambil keputusan yang sedemikian pelik?

Selidik punya selidik, Disrupsi jadi salah satu biang keladinya. `Innovation Disruption` sepertinya memang bisa menjadi momok. Mengganggu tatanan yang sudah lebih dulu terbangun dan mapan. Bisnis yang sebelumnya telah berjalan stabil bisa mengalami goncangan yang besar.

Kita bisa lihat dampak dari Disrupsi yang disebabkan oleh inovasi yang bergulir cepat beberapa tahun terakhir. Banyak bisnis yang tak mau bertransformasi terpaksa gulung tikar. Dihempaskan oleh perusahaan-perusahaan baru dengan model bisnis yang lebih kekinian.

Salah satu simbol disrupsi era kini adalah hadirnya teknologi Smartphone yang terus menerus mengalami pembaharuan. Sampai-sampai, Anda bisa melakukan apapun dengan Smartphone. Mendapatkan informasi strategis secara real time, tanpa harus menunggu.

Anda bisa melakukan Video Streaming dimanapun dan kapanpun. Tak ada lagi batasan ruang dan waktu. Mendapatkan informasi aktual dengan cepat. Tak perlu menunggu hitungan hari, atau bulan. Tinggal hitungan detik saja. Klik, informasi masuk ke dalam genggaman Anda. Real Time!

Kehadiran Smarphone dengan teknologi yang mengikutinya telah mengganggu tatanan lama yang sudah lebih dulu hadir dan mapan. Anda lihat bagaimana perusahaan penyedia jasa telekonimunikasi era lama pontang-panting karena kehadiran Smartphone.

Bagaimana telepon kabel tak lagi laku, karena sudah kalah canggih. Bagaimana layanan informasi yang terlambat akan terus digeser sampai akhirnya berakhir dalam kebangkrutan.

Ada pula bisnis transportasi Online yang mendisrupsi transportasi Konvensional. Berapa banyak perusahaan-perusahaan transportasi konvensional yang omsetnya menurun drastis akibat layanan transportasi Online? Ratusan perusahaan transportasi konvensional babak belur dikeroyok oleh perusahaan transportasi Online.

Akibat dari tak mampu mengantisipasi disrupsi memang sangat menyedihkan. Jika Anda tak siap, maka Disrupsi akan mengancam kelangsungan bisnis dan pertumbuhan ekonomi. Sejatinya, disrupsi adalah sebuah keniscayaan.

Bagian dari bagaimana kita mampu menakar resiko dan mengatasinya. jadi Anda tak harus melawannya. Cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan cara mengantisipasi dan beradaptasi.

Pertanyaan berikutnya, apakah Disrupsi hanya terjadi akibat perkembangan inovasi teknologi yang sangat pesat?

Tentu tidak. Dia tak hanya datang dengan dalam bentuk inovasi teknologi yang melesat bagaikan roket. Bisa jadi, disrupsi datang dalam bentuk lain. Batam, berpotensi mengalami hal tersebut.
Apa itu?

Batam telah bertumbuh menjadi kota yang besar dengan PDRB nomor tujuh di Indonesia. Batam juga telah berkembang menjadi kota pariwisata terkemuka, dengan kunjungan wisatawan mancanegara terbesar kedua di Indonesia, setelah Bali. Wow!

Hal itu menunjukan bahwa Batam telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Dari kota kecil, menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tapi, apakah kita sadar bahwa pertumbuhan yang pesat ini berpotensi mengalami gangguan?
Ya, ada gangguan yang sedang mengintai. Disrupsi yang siap menanti, jika kita lalai mengambil langkah antisipatif.

Mari kita telaah bersama.
Anda harus tahu, bahwa kondisi elevasi air di Dam Duriangkang sekarang telah menyentuh- 2,6 meter di bawah Spillway. Kejadian ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Belum lama ini. Tepatnya Oktober 2019 lalu.

Saat itu Batam cukup beruntung karena mampu bertahan tanpa melakukan apa-apa. Cadangan air Duriangkang perlahan mulai naik, seiring meningkatnya curah hujan. Tapi apakah kita akan terus-menerus bisa bertahan tanpa melakukan apapun? Kita cenderung take it for granted dan tak mencari solusi sampai kejadian yang tak diinginkan terjadi.

Apa sih bahayanya kondisi ini?

Dam Duriangkang adalah tulang punggung kebutuhan air di Kota Batam. Sekitar 80 persen pelanggan air bersih ATB dilayani melalui Dam tersebut. Jumlahnya lebih dari 200 ribu pelanggan. Baik rumah tangga, industri maupun komersial.

Jika kondisi elevasi air di Dam Duriangkang telah mencapai angka -3 (minus 3 meter) di bawah Spillway, maka penggiliran air tidak akan terelakan. Artinya, hanya tinggal 40 cm lagi hingga hal itu terjadi. Kapan itu? Sepertinya masa itu akan segera tiba. BMKG barusan buat prediksi kalau bulan Februari ini akan menjadi bulan terkering!

Kejadian ini tentu akan memberikan dampak yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi dan masyarakat kota Batam.

Anda bisa membayangkan, apa yang akan terjadi ketika penggiliran itu benar-benar terealisasi. Dampaknya tak hanya kepada pelanggan rumah tangga. Tapi yang paling eksesif adalah juga kepada pelanggan Industri dan Komersial.

Apa yang akan terjadi pada pelanggan Industri yang menggunakan banyak air? Apa yang akan terjadi pada hotel-hotel yang kekurangan air? Apakah industri-industri ini masih akan bisa terus beroperasi normal dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi?

Sudah siapkah Batam menghadapi bencana ini? Pertumbuhan bisa hilang dalam satu kedipan mata.

Seharusnya bagaimana?

ATB telah memberikan masukan kepada pemerintah terkait hal ini. Ada beberapa hal penting yang harus menjadi perhatian serius.

Pertama, menjaga ekosistem di daerah tangkapan air, menyiapkan sumber air baku baru untuk kelangsungan air kota Batam, dan memilah industri-industri yang masuk ke Batam.

ATB secara rutin memberikan laporan terhadap kondisi air baku terkini kepada pemerintah. Potensi terjadinya krisis airpun telah menjadi konsen kami sejak bertahun-tahun. Kami memberikan advice, agar pemerintah menyiapkan sumber air baku baru agar Batam tak terganggu.

Kerusakan ekosistem di Daerah Tangkapan Air (DTA) juga perlu mendapat perhatian serius. Kita tahu, DTA adalah harapan bagi kota yang mengandalkan air hujan seperti Batam. Jika DTA rusak, maka ketersediaan air juga akan terganggu.

Industri yang masuk ke Batam juga harus dipilih dengan bijaksana. Dulu, Batamdidesain untuk menjadi tempat bagi industri manufaktur yang notabene tak membutuhkan banyak air. Namun faktanya, Batam telah dibanjiri oleh industri pemakai air yang seharusnya tak boleh.

Sesuai dengan UU Sumber Daya Air Pemerintah bertanggungjawab memberikan Hak Rakyat Atas Air. Pertumbuhan yang dibangun selama ini berpotensi punah hanya gara-gara ketidaksadaran untuk melakukan antisipasi dan mencari solusi guna pemecahan potensi keterbatasan ketersediaan air bagi masyarakat Kota Batam.

Haruskah kita sadar dan belajar setelah kita tertimpa bencana. Mari Kita Pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)



Copyright © 2016 Adhya Tirta Batam. All Rights Reserved. Situs didesain oleh Internal Developer PT. Adhya Tirta Batam