Adhya Tirta Batam Official Website
 
Thu, 14 Nov 2019
Selamat Datang di Website PT. Adhya Tirta Batam (ATB)
Selalu Siapkan Tampungan Air, Antisipasi Terjadi Gangguan Suplai
Sumber Air Baku di Batam Terbatas, Gunakan Air Seperlunya Bukan Secukupnya.
Layanan ATB Mobile hadir di Pasar Botania 2, pasar Sei Harapan, Pasar BBC Dapur 12, pasar Fanindo Tanjung Uncang.
Pembayaran tagihan air ATB bisa dilakukan di Alfamart, Indomaret serta Bank Bukopin
Bayarlah tagihan anda sebelum tanggal 20 setiap bulannya agar terhindar dari denda keterlambatan dan penghentian aliran air bersih.

Info Grafis

Juara Sejati Tak Punya Alasan Untuk Menyerah

Dipublikasikan Pada : 03-NOV-2019 21:34:16,   Dibaca : 196 kali

"Seorang juara sejati akan berjuang melalui apa pun," Floyd Mayweather, Jr

Hampir semua orang tahu Tiger Woods. Atau paling tidak, pernah mendengar namanya. Dia sangat fenomenal. Karena berhasil mencatatkan 82 kali juara di kejuaraan golf profesional.

Woods berhasil menyamai, bahkan mengungguli beberapa rekor yang ditorehkan Sam Snead. Sam Snead adalah pemain Golf top di dunia selama lebih dari empat dekade dan secara luas dianggap sebagai salah satu pemain terbesar sepanjang masa.

Tapi tak banyak orang tahu bagaimana perjuangan seorang Tiger Woods mencapai rekor tersebut. Tak semuanya berjalan mulus. Woods mempertaruhkan banyak hal, termasuk kesehatannya sendiri.

Tiger Woods mengalami banyak jatuh bangun. Terutama karena masalah cidera lutut dan punggung.
Salah satu yang dicatat sejarah adalah pada saat pertandingan final US Open Tournament tahun 2008. Tiger Woods harus bermain dengan ditopang satu kaki. Karena dia cedera lutut kiri yang seharusnya dilakukan operasi. Woods harus berjalan terpincang-pincang. Dan berkali-kali tumbang setelah melakukan pukulan.
Sebuah foto karya Jurnalis Amerika berhasil mengabadikan kondisi Woods saat itu. Dia meringis menahan sakit setiap kali memukul bola.

Anehnya, Woods tak pernah mengeluh sepanjang pertandingan. Ketika ditanya, dia menggelengkan kepala. Dia terus berjuang dengan rasa sakit, dan  pada akhirnya memenangkan turnamen itu. Mengalahkan orang yang tengah berada dalam kondisi normal.

Setelah mengangkat piala US Open tinggi-tinggi, barulah Woods memberitahu publik bahwa lututnya menyiksa dia selama pertandingan. Bagaimana jika kita yang jadi Woods?

Mungkin kita akan banyak excuse. Waduh, lutut saya lagi sakit, tak bisa main. Atau alasan lain. Masuk akal memang. Tapi ternyata, itu tidak berlaku untuk Woods yang bermental juara. Juara tahu kalau itu sakit. Tapi juara sejati tak menggunakannya sebagai alasan. Justru kesakitan itu harus ditaklukan, supaya dia bisa tetap menjadi juara.

Selain operasi lutut, Woods juga harus menjalani serangkaian operasi punggung yang panjang. Itu berdampak terhadap kondisi fisiknya. Woods bahkan kesulitan untuk duduk setelah menjalani operasi punggung pada tahun 2017. Kondisi fisiknya ini membuat masa depannya sebagai pemain Golf profesional tak jelas. Woods hanya berharap bisa sembuh dan normal. Tak lagi berharap muluk-muluk untuk jadi pegolf profesional seperti dulu.

Tapi apa yang terjadi?
Orang kembali geleng-geleng kepala. Dasar mental juara. Setelah sembuh, Woods justru menggondol juara turnamen The Master 2019. The Master itu bukan kejuaraan biasa. Ini adalah salah satu dari empat kejuaraan golf profesional utama.

Itulah yang disebut juara sejati. Tak ada ruang mencari alasan untuk tidak juara. Justru dia selalu punya alasan untuk terus jadi juara. Kemampuan seorang juara justru diuji ketika dia mampu melewati masa-masa sulit, saat menerjang badai terhebat. Dan juara sejati ditunjukan dengan konsistensinya.

Dia harus mampu mempertahankan juaranya secara berkesinambungan. Bukan sesekali jadi juara. Hari ini juara. Besok tidak.

ATB telah menjadi juara sejati di kelasnya. Predikat perusahaan air minum terbaik di indonesia sudah tidak terbantahkan. Bukan setahun dua tahun. Tapi konsisten selama hampir 10 tahun terakhir. ATB unggul dari semua parameter. Kualitas, kuantitas dan kontiniunitas.

Cakupan pelayanan ATB yang terbaik di Indonesia. Mencapai 99,7 persen. Dari sisi kebocoran juga merupakan yang terendah di Indonesia. Rata-rata kebocoran air di Batam pada tahun 2018 adalah 16,6 persen.

Angka itu masih terus turun. Bahkan sempat menyentuh angka 12,9 persen di September 2019. Itu sudah cukup membuktikan ATB adalah perusahaan air yang fenomenal.

Lalu apakah ATB tak pernah mengalami masa-masa sulit?
Wah, banyak sekali masa sulit yang sudah kami alami.

Salah satunya ketika kami tak mendapatkan penyesuaian tarif selama hampir 10 tahun belakangan. Padahal, apa sih yang tak naik dalam kurun waktu itu? Selama periode 2010 hingga akhir 2018, akumulasi inflasi sudah 44,48 persen. BBM naik 46,67 persen. UMK juga naik 243 persen. Listrik naik. Yang lain-lain naik. Termasuk komponen yang mendukung produksi dan bisnis kami juga naik.

Sementara perusahaan utilitas lain sudah berkali-kali menyesuaikan tarif, ATB belum.
Tapi apa ATB menurunkan kualitasnya akibat tak ada penyesuaian tarif air bersih?

Apakah kami lantas mengorbankan pelanggan kami demi menghemat biaya?
Tentu saja tidak. Kami tak mengendorkan pelayanan kami, walaupun ada alasan untuk itu. Mental juara yang terbangun dalam kultur kerja ATB tak mengizinkan hal itu terjadi.

Lalu apa yang kami lakukan?
Dimasa-masa sulit itu, ATB justru melahirkan inovasi di bidang teknologi informasi. Kami beri nama Enterprised ATB Integrated System (EAIS).

Sistem ini adalah yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Kami menjawab tantangan dengan inovasi teknologi.  Berkat bantuan teknologi ini ATB mampu berkembang menjadi perusahaan yang semakin efisien dan profesional.

Apa dampaknya?
Tarif yang sudah hampir 10 tahun tak naik itu bisa kami atasi.

ATB juga menghadapi masa-masa sulit tahun 2015. Ketika sedang terjadi El Nino. Tampungan air di Dam Sei Harapan habis. ATB bisa saja menjadikan itu alasan untuk menurunkan kualitas layanan kepada pelanggan yang disuplai melalui Dam Sei Harapan.

Tapi kami tidak melakukan itu. ATB kerja keras untuk tetap menjaga suplai kepada pelanggan. Berbagai skenario diimplementasikan. Bagaimana hasilnya?

Ketika kota lain di Indonesia sudah kesulitan air, Batam tidak menghadapi masalah berarti. Padahal kota ini hanya hidup dari curah hujan yang ditampung di 5 Dam.

April 2019 sekali lagi Batam diuji dengan kesulitan air. ATB melakukan penggiliran terhadap pelanggan yang dilayani melalui Dam Sei Harapan. Sekali lagi, ATB berhasil melalui masa sulit tersebut.

Itu ujian-ujian yang dihadapi ATB. ATB menghadapi semuanya tanpa mengorbankan kualitas layanan. Ketika perusahaan lain masih berusaha membuktikan dirinya sebagai perusahaan yang terbaik, ATB sudah membuktikan dirinya sebagai juara sejati.

Bagaimana dengan perusahaan lain? Apa pilihan yang akan mereka buat ketika menghadapi tantangan dan masalah? Ketika ATB berhasil membuktikan diri sebagai juara sejati, mengapa yang lain tak bisa? Mari kita pikirkan.

Salam Kopi Benny. (*)



Copyright © 2016 Adhya Tirta Batam. All Rights Reserved. Situs didesain oleh Internal Developer PT. Adhya Tirta Batam